Share it

Rabu, 16 November 2011

PROPOSAL PENELITIAN: GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU UNGU KU PINANG KAU DENGAN BISMILLAH : (KAJIAN STILISTIKA)

RANCANGAN PENELITIAN

GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU UNGU KU PINANG KAU DENGAN BISMILLAH : (KAJIAN STILISTIKA)

OLEH:

MEKI WIJAYA

NPM. 0821244

PEROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BATURAJA

2011

RANCANGAN PENELITIAN

GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU UNGU KU PINANG KAU DENGAN BISMILLAH : (KAJIAN STILISTIKA)

A. Latar Belakang

Sastra adalah bentuk seni yang diungkapkan oleh pikiran dan perasaan manusia dengan keindahan bahasa, keaslian gagasan, dan kedalaman pesan (Najid dalam Ardiani M, 2009:1). Sastra adalah institusi sosial yang menggunakan medium bahasa (Wellek dan Warren dalam Ardiani M, 2009:1). Karya sastra sebagai hasil kreasi pengarang (Aminuddin dalam Ardiani M, 2009:1).

Genre sastra atau jenis sastra dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu sastra imajinatif dan nonimajinatif. Dalam praktiknya sastra nonimajinatif terdiri atas karya-karya yang berbentuk esei, kritik, biografi, otobiografi, dan sejarah. Yang termasuk sastra imajinatif ialah karya prosa fiksi (cerpen, novelet, novel atau roman), puisi (puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik), dan drama (drama komedi, drama tragedi, melodrama, dan drama tragikomedi), (Najid dalam Ardiani M, 2009:1).

Lirik lagu termasuk dalam genre sastra karena lirik adalah karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian (KBBI dalam Ardiani M, 2009:1). Jadi lirik sama dengan puisi tetapi disajikan dengan bentuk nyanyian yang termasuk dalam genre sastra imajinatif.

Setiap lagu pasti mempunyai tujuan tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat sebagai pendengarnya. Lagu berisi barisan kata-kata yang dirangkai secara baik dengan gaya bahasa yang menarik oleh pengarang dan dibawakan dengan suara indah oleh penyanyi. Penelitian ini menganalisis lirik lagu Ungu Ku Pingan Kau Denga Bismillah karena memiliki kemenarikan liriknya.

Dalam penelitian ini akan diteliti mengenai gaya bahasa yang terkandung pada lirik lagu Ungu Ku Pingan Kau Denga Bismillah ditinjau dari kajian stilistika. Penelitian ini ditinjau dari kajian stilistika yang berkaitan dengan gaya yang meliputi konsep-konsep tentang pilihan leksikal seperti pengunaan bahasa daerah, bahasa asing, mengenai ungkapan dan majas (Nurgiyantoro dalam Ardiani M, 2009:2).

B. Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam rancangan penelitian ini adalah bagaimanakah gaya bahasa dalam lirik lagu Ungu Ku Pinang Kau Dengan Bismillah: (Kajian Stilistika)?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis wujud gaya bahasa dari lirik lagu Ungu Ku Pinang Kau Dengan Bismillah dengan mendeskripksikan fakta berupa liriknya dan mengidentifikasi gaya bahasa yang sesuai.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis.

1. Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang gaya bahasa yang digunakan pada lirik lagu Ungu Ku Pinang Kau Dengan Bismillah.

2. Secara Praktis

a. Menambah wawasan tentang stilistika berkaitan dengan analisis lirik lagu Ungu Ku Pinang Kau Dengan Bismillah.

b. Membuat masyarakat pecinta Ungu lebih memahami gaya bahasa dalam lirik lagu Ungu Ku Pinang Kau Dengan Bismillah.

c. Membantu masyarakat penikmat musik lebih kritis menanggapi lagu-lagu Ungu.

E. Kajian Pustaka

1. Kajian Literatur

1.1 Pengertian Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah pengungkapan ide, gagasan, pikiran-pikiran seorang penulis yang meliputi hierarki kebahasaan yaitu kata, frasa, klausa, bahkan wacana untuk menghadapi situasi tertentu (Rahayu dalam Ardiani M, 2009:4).

Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas citraan, pola rima, matra yang digunakan sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra. Jadi majas merupakan bagian dari gaya bahasa (Sudjiman dalam Ardiani M, 2009:5). Selanjutnya majas (figurative language) adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu. Majas merupakan bentuk retoris, yang penggunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya (Kosasih, 2001:254).

Beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa gaya bahasa yaitu bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam menyampaikan ide, pikiran, gagasan pengarang terhadap karya sastranya dan juga majas merupakan bagian dari gaya bahasa.

1.2 Jenis Majas

Jenis majas menurut Kosasih (2002:254-260) yaitu dalam pembendaharaan bahasa Indonesia, dikenal berbagai jenis majas. Majas-majas tersebut terbagi ke dalam majas perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan.

a. Majas Perbandingan

Majas perbandingan meliputi personafikasi, metapora, perumpamaan, dan alegori.

1) Asosiasi (simile), adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi segaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti.

Contoh:

(a) Semangatnya keras bagaikan baju.

(b) Wajahnya bagai bulan purnama.

(c) Hatinya sedih seperti diiris sembilu.

(d) Mukanya pucat bagaimayat.

2) Metopora, adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat.

Contoh:

(a) Dia dianggap anak emas majikannya.

(b) Perpustakaan adalah gudang ilmu.

(c) Raja siang keluar dari ufuk timur.

3) Personifikasi, adalah majas yang membandingkan benda-benda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.

Contoh:

(a) Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.

(b) Daun kelapa melambai-lambai ditepi pantai.

(c) Awan hitam menebal diiringi halilintar bersahut-sahut.

(d) Bel sekolah memanggil-manggil para siswa untuk masuk ruangan.

4) Alegori, adalah majas perbandingan yang bertautan satu dengan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh:

Contoh:

Hati-hatilah kamu dalam mendayung bahtera rumah tangga, mengarungi lautan kehidupan yang penuh dengan badai dan gelombang. Apabila suami-istri, antara nahkoda dan juru mudinya itu seia sekata dalam melayarkan bahteranya, niscaya ia akan sampai pulau tujuan.

b. Majas Pertentangan

Majas pertentangan, antara lain meliputi hiperbola, litotes, ironi, sinisme, dan oksimoron.

1) Hiperbola, adalah majas yang mengadung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan maksud untuk memperhebat, meningkatkan kesan, dan daya pengaruh.

Contoh:

(a) Saya terkejut setengah mati mendengar perkataannya.

(b) Tubuhnya kurus kering setelah ditinggalkan oleh ayahnya.

(c) Pekik merdeka berkumandang di angkasa.

(d) Cita-cita anak itu selalu melangit.

2) Litotes, adalah majas yang ditujukan untuk mengurangi atau mengecil-ngecilkan kenyataan sebenarnya. Tujuannya antara lain untuk merendahkan diri.

Contoh:

(a) Kami berharap Anda dapat menerima pemberian yang tidak berharga ini.

(b) Gajiku tidak seberapa, hanya cukup untuk makan anak dan istri.

(c) Pertolongan apakah yang Saudara harapkan dari saya yang lemah dan bodoh ini?

3) Ironi, adalah majas menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir atau memperolok-olok.

Contoh:

(a) Bagus sekali rapormu, Andi. Banyak benar angka merahnya.

(b) Rajin sekali kamu, lima hari kamu tidak masuk sekolah.

4) Sinisme, adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.

Contoh:

(a) Perkataanmu tadi sangat meyebalkan. Kata-kata itu tidak pantas disampaikan orang terpelajar seperti kamu!

(b) Bias-bisa aku jadi gila melihat kelakuanmu itu!

5) Oksimoron, adalah majas yang antar bagian-bagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan.

Contoh:

(a) Nuklir dapat menjadi pemusnah masal, tetapi juga dapat mensejahterakan kehidupan umat manusia.

(b) Yang tetap dalam dunia ini adalah perubahan.

c. Majas Pertautan

Majas pertautan, antara lain meliputi metonimia, sinekdoke, alusi, eufimisme, ellipsis, dan inverse.

1) Metonimia, adalah majas yang memakai nama cirri atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang atau hal lainnya sebagai penggantinya. Kita dapat menyebut pencipta atau pembuatannya jika yang kita maksud adalah ciptaan atau buatannya. Bias pula kita menyebut bahan dari barang yang dimaksud.

Contoh:

(a) Para siswa di sekolah kami senang sekali membaca St. Alisyahbana.

(b) Dalam pertandingan kemarin ayahnya memperoleh perunggu sedangkan teman saya perak.

2) Sinekdoke, adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseleuruhannya, atau sebaliknya. Majas ini terbagi ke dalam dua jenis.

(a) Pas pro toto, sebagian untuk seluruhnya.

Maksudnya, kalau yang disebutkan sebagian dari suatu benda, maka yang dimaksudkan adalah benda itu secara keseluruhan.

Contoh:

(1) Paman saya mempunyai atap di Jakarta.

(2) Sampai sore ini dia belum kelihatan batang hidungnya.

(b) Totem pro parte, seluruhnya untuk sebagian.

Maksudnya, dengan menyebutkan keseluruhan, maka yang dimaksud hanya sebagiannya saja.

Contoh:

(1) Indonesia meraih mendali emas dalam kejuaraan itu.

(2) Sekolah kami meraih juara satu dalam pertandingan bola basket minggu lalu.

3) Alusi, adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung pada suatu tokoh atau pristiwa yang sudah diketahui bersama.

Contoh:

(a) Banyak koraban berjatuhan akibat kekejaman Nazi.

(b) Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri?

4) Ellipsis, adalah majas yang di dalamnya terdapat penghilangan kata atau bagian kaliimat.

Contoh:

(a) Dia dan ibunya ke Tasikmalaya (penghilangan predikat pergi).

(b) Lari! (penghilangan subjek kamu).

5) Inveri, adalah majas yang dinyatakan oleh pengubahan susunan kalimat.

Contoh:

(a) Paman saya wartawan → Wartawan, paman saya.

(b) Dia dating → Datang dia.

d. Majas Penegasan/Perulagan

Majas perulangan terdiri atas pleonasme, klimaks, antiklimaks, retoris, aliterasi, antanaklasis, repetisi. paralelisme, dan kiasmus.

1) Pleonasme, adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan artisuatu kata.

Contoh:

(a) Mereka turun ke bawah untuk melihat keadaan barang-barangnya yang jatuh.

(b) Dukun itu menengadah ke atas sambil menengadahkan tangannya.

(c) Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.

2) Klimaks, adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menghebat.

Contoh:

(a) Semua jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, sampai mobil, berjejer memenuhi halaman rumah Pak Kades.

(b) Baik itu RT, kepala desa, camat, bupati, gubernur maupun presiden, memiliki kedudukan yang sama dihadapan Tuhan.

3) Antiklimaks, adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menurun (melemah).

Contoh:

(a) Bapak kepala sekolah, para guru dan murid-murid, sudah hadir di lapangan upacara.

(b) Gedung-gedung, rumah-rumah, dan gubuk-gubuk, semuanya mengibarkan Sang Merah Putih pada hari ulang tahun kemerdekaan RI.

4) Retoris, adalah majas yang berupa kalimat tanya yang jawabannya itu sudah diketahui penanya. Tujuannya untuk memberikan penegasan pada masalah yang diuraikannya, untuk meyakinkan, ataupun sebagai sindiran.

Contoh:

(a) Siapa yang tidak ingin hidup bahagia?

(b) Apa ini hasil dari pekerjaanmu selama bertahun-tahun?

5) Aliterasi, adalah majas yang memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya sama.

Contoh:

(a) Dara damba daku, datang dari danau.

(b) Inilah indahnya impian, insan ingat ingkar.

6) Antanaklasis, adalah majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda.

Contoh:

(a) Karena buah penanya yang controversial, dia menjadi buah bibir masyarakat.

(b) Kita harus saling menggantungkan diri satu sama lain. Kalau tidak, kita telah menggantung diri.

7) Repetisi, adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.

Contoh:

Selamat datang pahlawanku, selamat datang pujaanku, selamat darang bunga bangsaku.

8) Paralelisme, adalah majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, hanya disusun dalam baris yang berbeda. Biasanya terdapat dalam puisi.

Contoh:

Sunyi itu duka

Sunyi itu kudus

Sunyi itu lupa

Sunyi itu lampus

9) Kiasmus, adalah majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse.

Contoh:

(a) Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya.

(b) Dalam kehidupan ini banyak orang pintar yang mengaku bodoh, dan orang bodoh banyak yang merasa dirinya pintar.

1.3 Pengertian Lagu

Lirik adalah karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian (KBBI dalam Ardiani M, 2009:7). Lagu adalah berbagai irama yang meliputi suara instrumen dan bernyanyi dan sebagainya, nyanyian, tingkah laku, cara, lagak (KBBI dalam Ardiani M, 2009:7). Lagu adalah ragam suara yang berirama, nyanyian, ragam, nyanyi, dan tingkah laku (KBBI dalam Ardiani M, 2009:8). Lagu adalah suatu kesatuan musik yang terdiri atas susunan pelbagai nada yang berurutan (Ensiklopedia Indonesia dalam Fillaili dalam Ardiani M, 2009:8).

Lirik lagu terbentuk dari bahasa yang dihasilkan dari komunikasi antara pencipta lagu dengan masyarakat penikmat lagu sebagai wacana tulis karena disampaikan dengan media tulis pada sampul albumnya dapat juga sebagai wacana lisan melalui kaset. Lirik lagu merupakan ekspresi seseorang dari dalam batinnya tentang sesuatu hal baik yang sudah dilihat, didengar maupun dialami. Lirik lagu memiliki kekhususan dan ciri tersendiri dibandingkan dengan sajak karena penuangan ide lewat lirik lagu diperkuat dengan melodi dan jenis irama yang disesuaikan dengan lirik lagu (Fauzi dalam Ardiani M, 2009:9).

1.4 Pengertian Stilistika

Stilistika merupakan bagian dari kajian wacana sastra yang oreantasinya kepada unsure kebahasaan. Bahasa yang tertuang dalam karya sastra adalah bahasa yang khas, yang dipergunakan pengarang atau penyair dalam menuangkan ide atau gagasannya untuk mencapai kesan indah dalam berbagai karya sastranya. Selain itu, penggunaan unsur kebahasaan dalam karya sastra berhubungan erat dengan daya kepengarangan seseorang pengarang atau penyair.

Menurut Keraf dalam Wahyudi (2008:65) style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengemukakan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan keperibadian penulis (pemakai bahasa). Selanjutnya Leech dan Short dalam Wahyudi (2008:65) menjelaskan bahwa stilistika merupakan studi tentang style yaitu kajian terhadap wujud performasi kebahasaan khususnya dalam karya sastra.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa stilistika adalah kajian tentang berbagai macam cara pengarang atau sastrawan dalam menggunakan unsur dan kaidah kebahasaan untuk mengumpulkan gagasan atau pikiran dalam menciptakan sebuah karya sastra yang bernilai estetis.

2. Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai gaya bahasa dalam lirik lagu pernah dilakukan oleh Bayu Wahyudi tahun 2008, yang merupakan salah satu mahasiswa Universitas Baturaja. Judul penelitiannya adalah “Analisis Unsur Retorika Dalam Syair Lagu Letto Album Don’t Make Me Sad”.

Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pemajasan yang terdapat dalam syair lagu album tersebut terdiri dari 24 buah metafora, 8 buah personafikasi, 2 buah antithesis, 1 buah litotes, 4 buah oksiomorom, 1 buah sinekdoke pars pro toto, 2 buah elipsis, 4 buah inverse, 6 buah pernyataan retoris, 5 buah repetisi, dan 2 buah polisindeton. Selain itu, penyiasatan struktur kalimat dalam syair lagu album tersebut terdapat 10 buah kalimat kendur, 1 buah kalimat pesiodik, 20 buah kalimat berimbang. Selanjutnya, pencitraan yang terkandung dalam syair lagu album tersebut terdiri dari 23 buah citraan penglihatan, 4 buah citraan pendengaran, 2 buah citraan penciuman, dan 6 buah citraan rabaan.

Persamaan penelitian yang dilakukan peneliti terdahulu adalah sama-sama meneliti syair lagu. Sedangkan perbedaannya terdapat pada kajian dan sumber data yang diteliti. Peneliti Bayu Wahyudi penelitiannya mengkaji unsur retorika, sedangkan penelitian ini mengkaji gaya bahasa dengan menggunakan kajian stilistika. Selain itu, sumber data pada penelitian terdahulu adalah syair lagu Letto album Don’t Make Me Sad, sedangkan penelitian ini bersumber datanya berasal dari lirik lagu Ungu Ku Pinang.

F. Metodologi Penelitian

1. Definisi Operasional Istilah

Gaya bahasa adalah pengungkapan ide, gagasan, pikiran-pikiran seorang penulis yang meliputi hierarki kebahasaan yaitu kata, frasa, klausa, bahkan wacana untuk menghadapi situasi tertentu (Rahayu dalam Ardiani M, 2009:4).

Lagu adalah ragam suara yang berirama, nyanyian, ragam, nyanyi, dan tingkah laku (KBBI dalam Ardiani M, 2009:8).

Jadi, definisi opersional dalam penelitian ini adalah gaya bahasa yang terdapat dalam lirik lagu Ungu Ku Pinang Kau Dengan Bismillah.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. Dan apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak atau proses sesuatu (Arikunto, 2010:172).

Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka sumber data dalam penelitian ini adalah teks lagu Ungu Ku Pingan Kau Dengan Bismillah, berikut teksnya:

Tuhan memberikanku cinta

Untuk ku persembahkan hanyalah padamu

Dia anugerahkanku kasih

Hanya untuk berkasih berbagi denganmu

Atas restu Allah ku ingin milikimu

Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku

Restu Allah ku mencintai dirimu

Ku pinang kau dengan Bismillah

Hampa terasa bila ku tanpamu

Hidupku terasa mati jika ku tak bersamamu

Hanya dirimu satu yang aku inginkan

Ku bersumpah sampai mati hanyalah dirimu (hanyalah dirimu)

Atas restu Allah ku ingin milikimu

Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku

Restu Allah ku mencintai dirimu

Ku pinang kau dengan Bismillah

Atas restu Allah ku ingin milikimu

Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku

Restu Allah ku mencintai dirimu

Ku pinang kau dengan Bismillah

3. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif. Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang terpenting sebab pendekatan apapun yang dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri (Kutha Ratna dalam Ardiani M, 2009:10). Dalam pendekatan obektif harus dicari dalam karya sastra seperti citra bahasa, stilistika, dan aspek-aspek lain yang berfungsi untuk menimbulkan kualitas estetis (Kutha Ratna dalam Ardiani M, 2009:10). Pendekatan objektif memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dari pencipta dan lingkungan sosial-budaya zamannya, sehingga karya sastra dapat dianalisis berdasarkan strukturnya (Sudikan dalam Ardiani M, 2009:11).

4. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis lirik lagu Ungu Ku Pingan Kau Dengan Bismillah adalah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi dalam Ardiani M, 2009:8). Metode deskriptif analitik dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis (Kutha ratna dalam Ardiani M, 2009:8).

5. Teknik Penelitian

a. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data-data yang berhubungan dengan gaya bahasa dalam lirik lagu. Data utama penelitian ini adalah teks lirik lagu Ungu Ku Pingan Kau Dengan Bismillah.

b. Teknik Analisis Data

Teknik penganalisisan data pada penelitian ini adalah teknik analisis gaya bahasa dalam lirik lagu Ungu Ku Pingan Kau Dengan Bismillah, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Member nomor pada setiap baris lirik lagu.

2) Menentukan dan menganalisis gaya bahasa pada lirik lagu.

3) Mendeskripsikan hasil analisis.

4) Membuat simpulan.

G. Langkah Kerja dan Jadwal Penelitian

1. Langkah Kerja

Langkah kerja yang dilakukan dalam penelitian ini melalui tahapan sebagai berikut:

a. Tahap persiapan penelitian

1) Melakukan konsultasi judul

2) Mengadakan studi literatur

b. Tahap pengumpulan data

Mendengarkan dan mencatat lirik lagu Ungu Ku Pingan Kau Dengan Bismillah.

c. Tahap Penganalisisan Data

1) Penganalisisan atau penelitian

2) Pendeskripsian data penelitian

d. Tahap Penyusunan Laporan

1) Penyusunan hasil laporan tahap awal

2) Penyusunan naskah hasil laporan tahap akhir

2. Jadwal Penelitian

Kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan selama empat bulan dari bulan Desember 2011 sampai dengan bulan Maret 2012. Untuk lebih lengkap dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel III Jadwal Penelitian

NO

TAHAP KEGIATAN

Tahun 2011 bulan ke:

12

1

2

3

1.

Persiapan penelitian

2.

Pengumpulan data penelitian

3.

Penganalisisan data penelitian

4.

Penyusunan laporan akhir

H. Daftar Pustaka

Adriani M, Ermi. 2009. Gaya Bahasa Dalam Lirik Lagu: (Kajian Stilistika). http://gado2indonesia.blogspot.com/2009/04/gaya-bahasa-dalam-lirik-lagu lagu-ungu.html. diakses 16 November 2011.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta: Rineka Cipta.

Kosasih. 2002. Kompetensi Ketatabahasaan (Cermat Berbahasa Indonesia). Bandung: Yrama Widya.

Wahyudi, Bayu. 2008. “Analisis Unsur Retorika Dalam syair Lagu Letto Album Don’t Make Me Sad”. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Baturaja: Universitas Baturaja.


Mudah-mudah ini bisa membantu teman-teman dalam mengerjakan tugas yang berhubungan dengan proposal/rancangan penelitian di atas. Intinya bisa bermanfaat bagi para pembaca blog ini, semoga teman-teman sekalian tidak kecewa dalam membaca artikel dalam blog ini. Terima kasih telah singgah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar